Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024
  CREATURE Ada kalanya aku takut. Akan gaung yang kadang terdengar. Tidak ada yang mengetahui, kapan ia akan muncul. Yang pasti dia mengawasi. Entah dari atas tubuhmu. Atau dibawah tanah batu. Sunggu menderita. Dia ingin muncul. Ingin diketahui. Bahwa dia abadi. Bunyi yang terkadang kudengar. Hanyalah kata tolong yang menyandar. -Surabaya 2024, pukul 17.39
  BATU Kamu salah. Kamu yang tidak terarah. Aku yang dituduh salah. Hancur rasanya. Suara mana yang tidak terdengar di kepalaku? Cacian mana yang aku tidak pernah dengarkan? Sadarkah kamu? Kau tenggelam dengan keegoisanmu sendiri? Pecah berkeping-keping. Dipukul dengan batu kenyataan. Bahwa aku tidak berhak terdengar. -Surabaya, 2024, kelas 311 SAPSI
  Cukup Tertawa Kupelajari hari ini. Bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Entah kakimu patah, dadamu sobek, atau otakmu hancur. Semua tak acuh. Kecuali dia butuh. Kamu yang selalu ada untuk mereka. Kini dibuang sia-sia. Jangan marah padaku jika aku tertawa. Karena aku, Juga memeluk goresan di dada. Dengan hanya sendiri saja. -Surabaya, 2024
  TAK BERHARGA Bulan masih menyapa Bintang juga masih setara Fajar panggilannya Menutup bukti yang kentara Langit gelap Saksi aku yang terus meratap Datang duduk sendiri Melihat kamu di depan berdiri Namun siapa sangka, kamu langsung pergi Melihat adanya aku disini Seketika perih menusuk hati Semua perasaan mengerubungi Apakah ini semua berarti? Atau hanya mengasah pisau belati? Tak pernah kusangka Bahkan sebagai teman pun, kau tak ingin aku ada
SURAT 10 Fisik yang tak sempurna. Tak pernah jadi alasan tak suka. Aku yang sudah rapuh. Tetap dipaksa untuk berlabuh. Hancur segenap jiwa. Merobek luka dan bekasnya. Ketika bahagia itu tiba. Seketika takut juga bergelora. Mimpi yang kulihatnya. Nyata memang tak ada wujudnya. Sesak di kala malam. Yang disebab fikir yang tak tentram. Ikat demi mengikat. Menjebak janji yang terlaknat. Percaya yang tak pantas ditaruh. Mengguncang tubuh dengan gemuruh. Perih sakit yang dirasa. Diluluh lantah oleh trauma. Kini diam adalah jalannya. Buang sakit dengan telannya. -Selasa, 18 Oktober 2022  
LAGI Ada lagi hari ini. Hari saat aku tersenyum lagi. Dan pelakunya, kamu lagi. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Dan aku bertiup bagai angin nyaru. Namun, gelora remaja menuntut hak. Untuk tertawa terbahak-bahak. Sikapmu yang buatku nyaman. Menyambut hariku dengan kelucuan. Perhatian yang tak terhenti. Buat hati bahagia setengah mati. Hal-hal sepele yang kamu lontarkan. Membuatku melompat di awan angan. Cukup hari ini. Intinya aku mencintai.    
  LUPA Ternyata aku salah. Dan itu adalah sampah. Aku terlalu haus. Hingga lupa makna dahaga. Pikir mencintaimu adalah pencapaian. Ternyata aku hanya pelabuhan. Berusaha ku cari pelampiasan. Namun terus rindu yang kutemukan. Jika itu kesalahan, Maka akan kuterima. Jika memang rumahmu bukan aku, Maka aku tak paksa untuk kembali. Aku mendukungmu dari sini. Meski deengan perih yang mematri.
  KERTAS Lembaran yang hilang. Terbang jatuh, juga melayang. Dimainkan oleh angin. Diangkat bumi bagi pemimpin. Lunturnya tinta. Bukan berarti dia melupa. Dipaksa menaruh rasa. Namun robekan lara yang didapatnya. Menanda bukti. Untuk terus pergi mencari. Ketidakpastian yang terus dilawan. Membiarkan waktu untuk menahan. Sekali ia dapatkan. Hanya terjebak dalam penjara harapan. -Sampit, 2021  
ISI Kamu mungkin tak pernah tahu.  Saat berisik bagai peluru.  Semua berenang di kepala.  Sakit bagai ditanduk arwana.  Dihantui bak jiwa La Llorona.  Semua dikurung dalam satu kepala.  Dihambur acak diisi kata.  Tulisan yang tak diduga.  Bingung saja yang masih tersisa. -2023.
  MAJAS Rangkaian kata.  Kita panggil diksi.  Diksi indah yang dirangkai.  Untuk mewakili isi hati.  Bagai bunga matahari.  Seperti yang kau baca ini.  Menggabung ucapan.  Dari suara logika dan hati.  Mungkin kau tidak mengerti.  Apabila tak belajar memahami.  Guru yang mengajarkan.  Maka kamu bisa amalkan.  Dia indah.  Bahkan terlalu indah.  Semua yang bermuara.  Menyanyikan angin.  Menggantung layak akar pohon beringin.
  Puisi Ini.  Hanya sekedar puisi.  Puisi yang mungkin berisi suka.  Bisa juga berisi deretan lara.  Ini.  Adalah pengingat untukmu.  Hadir untuk mengingatkan.  Tanpa doktrin untuk melupakan.  Ini.  Mengingatkanmu untuk terus maju.  Tanpa peduli waktu.  Dan tetap ingat pada kasihnya. -2023.
  POETRY Terkejut?  Wajar.  Ragu?  Tak peduli.  Bisa apa penulis jika terus peduli?  Hati-hati. Jika kamu telah masuk pada puisi.  Puisi yang ditulis.  Maksud menusuk bak manuraga keris.  Diceritakan kisahnya.  Melalang buana terus perginya.  Pengabadian pengalaman.  Menancap cerita yang dirasa aman. -2023