Postingan

Perihal Janji

 Janji. Semua tau itu tak boleh diingkari. Sakit? Yang penting jangan diingkari. Perih? Yang penting jangan diingkari. Entah beribu gambar lara yang menghampiri. Begitu sulitnya untuk menahan diri. Agar tidak melukai. Jejak yang menjadi tanda berjuang untuk bertahan. Sayangnya dimantra untuk tidak diulang. Karena janji yang pernah dibuat. Juga tri ingkar yang pernah kubuat. Garis lengan yang menjadi saksi. Akan serpihan yang pernah kulewati. Deru sesak yang masih bisa kudengar. Berteriak hebat untuk ukiran. Namun, ingat akan pikir ini. Jika semua telah menghantamku. Maka siapa yang akan menyelamatkan jika bukan aku? - Surabaya, 2025

Desember, 2024

 Di tengah malam. Di kala kicau burung telah meredup. Aku tak kunjung menyentuh alam mimpi. Entah apa yang terjadi. Aku pun tidak mengerti. Apa yang kupikir. Aku pun tak memahami. Ingin pergi. Namun ke pijak bumi mana lagi? Susah senang sendiri. Telah kujalani. Sampai manakah lagi ini? Hingga takdir menghampiri.

Budi Pekerti

 Aku menghela nafas berat. Karena hatiku terasa penat. Buku tahunan yang telah lama, Sirna dengan hal yang tak ada zatnya. Faktanya, Surga bersama bukan lagi yang diinginkannya. Seribu tawa haru bersama. Hancur oleh ego yang sementara. Karena bukan yang pertama. Aku tidak begitu terpesona. Aku tidak ingin menghitung. Karena aku juga bukan orang yang sempurna. Jika memang Tuhan berkata bahwa sudah saatnya. Aku bisa apa? Haru biru yang kupendam setiap malam. Rindu tawa yang kuharap jadi momentum. Kini menguap menjadi angan-angan. Ikhlas sudah menjadi jalan-Nya. Ketika semua yang tersayang harus direnggut karena sudah waktunya.

Lara yang Membahana

  Heran. Di tanah bumi yang engkau bentangkan. Dimana banyak orang bilang disini menyenangkan. Di dalamnya juga ada laut yang menenangkan. Bisa-bisanya, Kau biarkan aku sendirian. Bisa-bisanya Kau biarkan aku kesakitan sendirian. Aku bukan menantangmu. Aku tidak membencimu. Aku hanya ingin pembuktianmu. Aku mengerti bahwa semuanya pasti pergi bahkan telah kutanamkan di dalam sanubari. Aku mengerti bahwa semua tidak selamanya bisa aku miliki. Aku mengerti semuanya, Tuhan. Tapi, aku pun tahu engkau mendengar semua ringkih perihku. Engkau dengar, namun mengapa seperti tak ada jawaban darimu? Dengan alasan buatku kuat, tapi mengapa harus sendirian Tuhan? Mengapa engkau selalu buktikan bahwa aku selalu salah menyayangi manusia lain? Kenapa Kau selalu ambil mereka Tuhan? Apa yang salah dari rasa sayangku Tuhan? Hingga aku merasa bahwa semua yang aku berikan kepada mereka sia-sia. Aku bisa memberikan mereka waktu, perhatian, kesetiaan, tapi mengapa aku selalu berakhir dibuang ke dalam ke ...
  Ringis Tuhan. Rupanya, menjadi diriku tidak cukup. Entah beribu emosi yang sudah tertangkup. Dan berjuta rintih yang kututup. Isak yang dicap lemah. Tidak dimengerti jika ada patah. Yang tak pernah sembuh dengan rasa bersalah. Tuhan. Ampuni aku yang menganggap mereka akan mengerti. Ampuni aku yang menganggap mereka menyayangi. Ampuni aku Tuhan karena berpikir manusia lain akan sepertimu. Ampuni aku yang selalu meminta untuk diperlakukan sama. Seperti mereka yang kudampingi dengan ceria. Kupinjam telinga untuk mewadah cerita. Ternyata, katanya lukaku tidak seberapa. Tuhan. Jikalau engkau beri aku kesempatan. Karuniakanlah aku tempat berbagi selain engkau. Sungguh aku tak sanggup menyimpannya sendirian. Sendirian yang kuanggap tenang. Justru mendorongku jatuh dalam kegelapan yang terawang. Suara kepala yang terus menggema. Menggendong harapan tuk bertemu kau pulang. Lara yang kuanggap sembuh. Ternyata menyuara terabaikan. Gores yang kuanggap kecil. Ternyata membentuk kubangan darah...
  MIMPI Sakit. Sakit. Sakit. Aku tau semua harus dihadapi. Tapi kala itu, aku terus berlari. Di tengah selingan air mata, aku mengawang menuju mimpi. Ketika itu pula, aku jatuh. Semakin tenggelam. Semakin temaram. Semuanya seakan menghitam. Dingin rasanya. Yang bisa kudengar, hanyalah hilir arus yang menggebu. Ramah membelai tubuhku. Yang meringkuk ketakutan. Sendirian. Cercah cahaya yang kulihat. Semakin jauh tuk kudapat. Entah berapa lama aku akan terjatuh. Karena sesak begitu merengkuh di dalam dadaku. Berharap ada kata tolong. Seperti mati tak tertolong. - Surabaya, 2024
  CREATURE Ada kalanya aku takut. Akan gaung yang kadang terdengar. Tidak ada yang mengetahui, kapan ia akan muncul. Yang pasti dia mengawasi. Entah dari atas tubuhmu. Atau dibawah tanah batu. Sunggu menderita. Dia ingin muncul. Ingin diketahui. Bahwa dia abadi. Bunyi yang terkadang kudengar. Hanyalah kata tolong yang menyandar. -Surabaya 2024, pukul 17.39