Budi Pekerti

 Aku menghela nafas berat.

Karena hatiku terasa penat.

Buku tahunan yang telah lama,

Sirna dengan hal yang tak ada zatnya.

Faktanya,

Surga bersama bukan lagi yang diinginkannya.

Seribu tawa haru bersama.

Hancur oleh ego yang sementara.

Karena bukan yang pertama.

Aku tidak begitu terpesona.

Aku tidak ingin menghitung.

Karena aku juga bukan orang yang sempurna.

Jika memang Tuhan berkata bahwa sudah saatnya.

Aku bisa apa?

Haru biru yang kupendam setiap malam.

Rindu tawa yang kuharap jadi momentum.

Kini menguap menjadi angan-angan.

Ikhlas sudah menjadi jalan-Nya.

Ketika semua yang tersayang harus direnggut karena sudah waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini