Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024
  KAJI Interaksi sering terjadi. Bagai aturan yang selalu menjadi Semesta yang ada di matamu. Membuatku hanyut oleh gravitasimu. Kupu-kupu yang ada di perutku. Menari-nari akan rasa itu. Senyum itu. Mata itu. Tubuh itu. Sungguh aku tak paham lagi. Apa yang membuat namamu mematri. Berdo’a pada tuhan untuk kendali rasa. Namun yang ada, hanyalah ledakan rasa. Orang-orang sebut cinta. Namun aku belum paham sepenuhnya. Rasa gelisahku yang masih ada. Bantu dayung ombak cerita.
  BERCANDA Kontak kembali terjadi. Interaksi kembali terjadi. Harus kututpi dengan memaki. Dan memilih untuk makan hati. Mungkin kamu pikir, aku telah berubah. Tapi nyatanya, aku korban yang tak bersalah. Aku tak bisa menulis banyak. Karena setiap tulisan, membuatku sesak.
  TAHU Banyak orang bertanya. Mengapa harus lewat puisi? Mengapa tak ikuti intuisi maksud hati? Daripada berdiam diri layak kepompong menunggu hari. Maka memberi jawablah aku. Pada mereka yang terus menggerutu. Untuk apa aku memberi tahu? Apabila hasilnya aku sudah tahu. Bagaimana aku bisa memberi tahu? Apabila dia tak pernah mau tahu. Diantara hati dan pertemanan. Maka kupilih hati untuk dikorbankan. Tak apa yang kurasa. Tak sepadan dengan tawa kencangnya.
  LUPA Ternyata aku salah. Dan itu adalah sampah. Aku terlalu haus. Hingga lupa makna dahaga. Pikir mencintaimu adalah pencapaian. Ternyata aku hanya pelabuhan. Berusaha ku cari pelampiasan. Namun terus rindu yang kutemukan. Jika itu kesalahan, Maka akan kuterima. Jika memang rumahmu bukan aku, Maka aku tak paksa untuk kembali. Aku mendukungmu dari sini. Meski deengan perih yang mematri.
  Marah Ini tentang aku. Dan tentang rasaku untukmu. Aku tak pernah berpikir untuk mencintaimu. Juga tak pernah berpikir akan mengakhiri cintaku untukmu. Seolah semua sembilu tak pernah mematri. Ketika kamu hadir di depan diri. Canda tawa yang terjadi. Membuat lekuk sabit wajah terus terjadi. Egoisku yang menjadi sabarmu. Seakan tak pernah mengganggumu. Dan aku bahagia akan itu. Tetapi malapetaka tak pernah memberitahu. Kapan datangnya ia untuk menyerbu. Kisah yang sudah diukir. Seakan hanyut oleh ombak pasir. Pikiran yang terus mendesir. Akan memori yang pernah terukir. Kamu yang pernah aku banggakan. Ternyata kamu juga yang mengucap kata perpisahan. Dengan beribu alasan tanpa kejelasan. Kamu tinggalkan aku yang masih terbalut selimut harapan. Kini, tinggal aku. Aku yang harus berusaha. Aku yang harus belajar. Aku yang harus ikhlas. Aku yang harus menanggung apa yang sudah kamu beri. Rasa sakit... Atas memori yang terus terungkit. Ikhlas... Yang harus di seimbangkan dengan emosi y...