Marah

Ini tentang aku.

Dan tentang rasaku untukmu.

Aku tak pernah berpikir untuk mencintaimu.

Juga tak pernah berpikir akan mengakhiri cintaku untukmu.

Seolah semua sembilu tak pernah mematri.

Ketika kamu hadir di depan diri.

Canda tawa yang terjadi.

Membuat lekuk sabit wajah terus terjadi.

Egoisku yang menjadi sabarmu.

Seakan tak pernah mengganggumu.

Dan aku bahagia akan itu.

Tetapi malapetaka tak pernah memberitahu.

Kapan datangnya ia untuk menyerbu.

Kisah yang sudah diukir.

Seakan hanyut oleh ombak pasir.

Pikiran yang terus mendesir.

Akan memori yang pernah terukir.

Kamu yang pernah aku banggakan.

Ternyata kamu juga yang mengucap kata perpisahan.

Dengan beribu alasan tanpa kejelasan.

Kamu tinggalkan aku yang masih terbalut selimut harapan.

Kini, tinggal aku.

Aku yang harus berusaha.

Aku yang harus belajar.

Aku yang harus ikhlas.

Aku yang harus menanggung apa yang sudah kamu beri.

Rasa sakit...

Atas memori yang terus terungkit.

Ikhlas...

Yang harus di seimbangkan dengan emosi yang tak selaras.

Dengan semua yang sudah terjadi.

Ternyata karena perempuan yang tak tahu diri.

Aku masih berusaha memaafkan.

Tapi bukan lagi memberi kepercayaan.

-Untuk Bogor yang pernah aku sayangi

Sampit,2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini