Ringis

Tuhan.

Rupanya, menjadi diriku tidak cukup.

Entah beribu emosi yang sudah tertangkup.

Dan berjuta rintih yang kututup.

Isak yang dicap lemah.

Tidak dimengerti jika ada patah.

Yang tak pernah sembuh dengan rasa bersalah.

Tuhan.

Ampuni aku yang menganggap mereka akan mengerti.

Ampuni aku yang menganggap mereka menyayangi.

Ampuni aku Tuhan karena berpikir manusia lain akan sepertimu.

Ampuni aku yang selalu meminta untuk diperlakukan sama.

Seperti mereka yang kudampingi dengan ceria.

Kupinjam telinga untuk mewadah cerita.

Ternyata, katanya lukaku tidak seberapa.

Tuhan.

Jikalau engkau beri aku kesempatan.

Karuniakanlah aku tempat berbagi selain engkau.

Sungguh aku tak sanggup menyimpannya sendirian.

Sendirian yang kuanggap tenang.

Justru mendorongku jatuh dalam kegelapan yang terawang.

Suara kepala yang terus menggema.

Menggendong harapan tuk bertemu kau pulang.

Lara yang kuanggap sembuh.

Ternyata menyuara terabaikan.

Gores yang kuanggap kecil.

Ternyata membentuk kubangan darah.

Aku benci sendirian.

Tapi aku tidak mau sakit lagi.

Diciptakan dengan rasa ini.

Membuatku mudah untuk memahami.

Tapi, entah kenapa 

Aku sulit dipahami.

Bukanku tak mau berbagi rasa.

Tapi aku juga tak mengerti bagaimana caranya.

-Sidoarjo, Cemeng bakalan, kamar, 00.14

Komentar

Postingan populer dari blog ini